“Apakah kamu mau? Hahahaha ayolah, kamu pasti mau,” seru seorang pria bermuka gelap dengan suara lantang dan muka yang menyeringai licik. Seringainya terlihat seram dengan gigi yang jarang-jarang berwarna agak keabu-abuan.

“Hah!” Bito terbangun dari tidurnya. Sambil masih terengah-engah ia mengelap keringat dan iler yang membasahi pipi bagian kanan. Dengan terburu-buru ia melihat jam di hapenya, masih jam 2 dini hari. Mendadak ia kaget dan segera menyalakan hape milik adiknya, nexian TV. Ia lupa kalau jam segitu Chelsea, club liga inggris yang didukung Bito bertanding melawan Arsenal. Pertandingan berjalan seru dan berakhir dengan skor 2-2. Namun semenjak pertandingan dimulai, ia sama sekali tidak berkonsentrasi menontonnya. Ia malah melamun memikirkan apa arti dari mimpi yang sudah 3 hari berturut-turut selalu muncul dalam tidurnya.

“Wah kampret, jam 7!” Bito yang baru bangun langsung panik melihat jam di hapenya. Ia segera berlari menuju kamar mandi untuk mandi dan melakukan hal-hal wajib di pagi hari. Tidak pakai lama, ia sudah berada di sekolah. The power of kesiangan memang efektif untuk Bito yang sering bangun siang.

Pagi hari yang mendung di sekolah, ditambah angin semilir yang menerobos masuk ke kelasnya, membuat Bito kembali melamun memikirkan mimpi tadi pagi. Penjelasan guru tidak didengar, ocehan dan ejekan teman-teman kelasnya yang terkenal ribut dan sudah jadi bahan gosip di antara para guru pun tidak ada yang digubris. Hal itu berlangsung selama 2 jam sampai waktu istirahat tiba.

Melihat Bito yang biasanya banyak omong, usil, dan kadang-kadang agak brengsek mendadak jadi melamun begitu, membuat kedua teman dekat Bito, Rembo dan Lili jadi penasaran. Mereka pun bergegas menghampiri Bito.

“Oy bengong aja lu, To!” Seru Rembo sambil menendang keras meja Bito.

Bito yang sedari tadi dari bengong, kaget sekaligus jengkel ia bangkit dan hendak marah, namun melihat Rembo dan Lili sudah berada di depan mejanya, ia kembali tenang. “Apa-apaan tadi lu, Rem?” tanya Bito ketus dan kembali duduk.

“Gue nanya, lu ngapain bengong aja dari tadi?” Kali ini Rembo duduk di meja Bito. “Biasanya kan elu kalo jam istirahat gini langsung ngoceh gak jelas sambil nyolekin pantatnya Lili,” sambung Rembo lagi.

BUGHH! Belum sempat Bito menjawab Lili sudah melayangkan pukulan keras ke arah lengan Rembo. “Tapi serius nih, elu kok diem aja daritadi?” Lili yang biasanya agak cuek jadi sedikit penasaran.

“Gini guys,” Bito mulai menjelaskan dengan muka sayu. “3 hari ini gue selalu dapet mimpi yang sama. Orang bermuka gelap yang menyeringai, giginya gak beraturan, dan selalu ngomong kalimat yang sama.”

“Kayaknya ini pertanda deh, tapi gue gak tau ini pertanda apaan,” lanjut Bito. “Gimana menurut kalian?”

“Hmm gue gak begitu ngerti ya kalo soal mimpi-mimpi gini,” Lili berdiri dari tempat duduknya. “Mending lu beli buku kumpulan tafsir mimpi aja, To,” jelas Lili yang sudah kembali ke sifatnya yang cuek.

“Sama, gue kalo soal mimpi-mimpi gini nye….” belum selesai Rembo menyelesaikan perkataannya, rambutnya sudah dijambak oleh Lili. “Woy lepasin, Li!!” Rembo meronta-ronta sambil memegangi rambutnya yang bercabang.

“Kalo lu udah selesai bengong gabung sama kita di kantin ya,” ujar Lili. Ia berjalan keluar kelas sambil terus menjambak rambut Rembo.

Bito cuma bisa tersenyum kecut melihat kedua teman dekatnya yang abnormal. Kadang mereka bisa care dan kepo banget sama urusan orang tapi kadang cueknya stadium 4 kalau curhatan temannya bukan tentang sesuatu yang mereka kuasai. “Manusia kampret,” katanya pelan.

Sesampainya di gerbang rumah, Bito iseng-iseng melihat kotak surat rumahnya. Ia melihat sebuah amplop berwarna abu-abu monyet yang sedikit tebal, tanpa nama yang dituju dan dengan nama pengirim “Kesuksesan di Tangan Anda”. Dengan rasa penasaran Bito mengambil surat itu dan segera membawanya menuju ke kamar.

“Anda punya impian ingin kaya?Β  Dapat bonus jalan-jalan ke luar negeri pilihan anda secara gratis?” Bito membaca pelan baris pertama dalam surat itu.

“Ingin punya penghasilan besar setiap harinya? Menikmati kesuksesan dengan berpergian memakai jet pribadi? Bergabunglah bersama kami! Bisnis terbaru yang revolusioner. Siapa pun anda yang menerima surat ini, anda hanya tinggal selangkah lagi menuju puncak kesuksesan!”

“Ini dia, ini kayaknya pertanda mimpi-mimpi gue 3 hari ini. Ini kesempatan buat gue bisa ke Inggris,” batin Bito sambil ia melihat-lihat 3 keping DVD yang membuat amplop abu-abu tersebut menjadi tebal. Ia kembali membaca surat itu dengan hati-hati di bagian Tata Cara Berbisnis. Bito mulai mempelajari satu demi satu tata cara melakukan bisnis revolusioner itu semalaman. Bito sangat antusias dan bertekad untuk sukses di bisnis ini, karena ia ingin mewujudkan mimpi pergi ke Inggris untuk menonton club kesayangannya berlaga. Ia bosan hanya menjadi pendukung layar kaca. Ia benar-benar ingin menginjakan kakinya di Stadion Stamford Bridge, kandang dari Chelsea FC. Tidak menonton pun tidak apa-apa pikirnya, asalkan bisa melihat langsung seperti apa wujud dari Stadion kebangggan club Inggris yang ia didukung.

Esoknya, Bito sudah datang pagi-pagi. Suatu kejadian yang langka. Kelas masih sepi dan tampak Lili baru datang. Tanpa ragu-ragu Bito langsung melancarkan taktik ‘bisnis’nya.

“Li, lu mau sukses usia muda gak?” Tanya Bito dengan tatapan meyakinkan. “Lu harus ikut bisnis gue, Li. Seriusan!”

“Ya mau lah, siapa yang gak mau coba,” bales Lili ragu-ragu melihat gelagat aneh Bito. Terlebih karena tidak biasanya si Bito datang sepagi ini.

Bito mulai menjelaskan bisnisnya dan tata cara untuk melakukan bisnis itu. Lili manggut-manggut menandakan ia tertarik pada bisnis yang ditawarkan oleh Bito. Namun pikirannya melayang mencoba untuk mengingat-ingat sebuah artikel yang menjelaskan bisnis seperti Bito ini, bisnis yang menggugah di cover depannya tapi ternyata isinya tidak jelas. Lama ia berusaha tapi tak kunjung ingat, akhirnya Lili memutuskan untuk menghentikan ocehan Bito tentang ‘bisnis’nya.

“Eh, To, gue kekamar mandi dulu ya,” kata Lili ngeles. Sebenarnya ia berniat untuk mencari Rembo untuk memberi tahu tentang gelagat ‘sok pebisnis’ Bito.

“Ya udah jangan lama-lama gue belum selesai jelasin nih.”

Tak lama kemudian Lili sampai dikelas bersama Rembo yang baru datang, tapi tidak ada tanda-tanda keberadaan Bito. Sepertinya Bito sedang mencari ‘korban lain’ setelah usahanya untuk mengajak Lili bergabung gagal.

“Bahaya nih, bener-bener bahaya,” ucap Rembo dengan muka serius. “Si Bito kena PMS,” lanjutnya.

Lili langsung melihat kearah Rembo. “Bahaya? Bahaya kenapa?” Lili semakin bingung dengan perkataan Rembo setelahnya. “Seriusan lu si Bito PMS?” Tanya Lili lagi.

“Iya, gue yakin banget.”

“Ya udah ayo cari Bito, bentar lagi masuk kelas,” ajak Lili yang masih dilanda kebingungan.

Tak lama kemudian, Rembo dan Lili menemukan Bito sedang duduk di kursi depan perpustakaan dengan tampang kelelahan namun bahagia. Mereka mengambil langkah cepat menuju ke arah Bito.

Bersambung…….

Makan ini dulu sambil nunggu lanjutannya

Makan ini dulu sambil nunggu lanjutannya

Advertisements