Tags

, , , ,

Halo..

Saking kelamaan gue gak ngepost jadi bingung mau bilang apa lagi. Anyway, tanggal 18 kemarin gue melakukan trip lagi. Kalau sebelumnya gue ke pantai-pantai, tanggal 18 itu gue ke Desa Trunyan. Ada yang tau Desa Trunyan? Jadi buat yang gak tau, Desa Trunyan itu sebuah desa di daerah Kintamani, Bangli yang agak beda dari daerah-daerah lain di Bali.

Apabila salah seorang warga Terunyan meninggal secara wajar, mayatnya akan ditutupi kain putih, diupacarai, kemudian diletakkan tanpa dikubur di bawah pohon besar bernama Taru Menyan, di sebuah lokasi bernama Sema Wayah. Namun, apabila penyebab kematiannya tidak wajar, seperti karena kecelakaan, bunuh diri, atau dibunuh orang, mayatnya akan diletakan di lokasi yang bernama Sema Bantas. Sedangkan untuk mengubur bayi dan anak kecil, atau warga yang sudah dewasa tetapi belum menikah, akan diletakan di Sema Muda.(wikipedia)

Dan yang bikin mayat-mayat itu enggak bau, padahal seharusnya menimbulkan bau, adalah karena kehadiran pohon Taru Menyan yang cuma hidup didaerah ini. Makanya desa ini dinamakan Desa Trunyan.

Balik ke perjalanan.

Personil trip masih sama seperti sebelumnya. Gue, Agung, dan Galih. Titik berkumpul juga masih di rumah Agung. Tapi yang jadi masalah adalah waktu keberangkatan. Gara-gara ada urusan di bank, jam berangkat jadi molor jadi jam setengah 12. Belum lagi kita nganterin Agung untuk daftar ulang di ISI Denpasar. Setelah selesai semua urusan, akhirnya kita bener-bener berangkat ke tujuan. Sayangnya baru jalan dikit kita udah diguyur hujan, dan semakin lama makin deras. Biar gak terlalu sore nyampenya, kita gaspoll aja menerjang badai.

Singkat cerita kita udah nyampe di deket Gunung sama Danau Batur. Hawa disini dingin jadi disarankan bawa jaket yang agak tebel.

IMG_20140718_135330

gunung sama danau

Kemudian kita jalan lagi dikit untuk dapetin view yang bagus.

IMG_20140718_142241Karena Danau Batur bukan tujuan kita sebenernya, kita lanjut lagi nyari Desa Trunyan. Hidupin GPS, ternyata gak ada sinyal…. Nunggu dulu deh.

Lanjutt GPSnya udah nyala.

IMG_20140718_143307Desa Trunyan dikelilingi tebing-tebing tinggi kayak gini.

Sebenernya untuk sampai di kuburannya, kita harus naik boat yang banyak di tawarin sama orang-orang lokal sana. Tapi gara-gara mahal dan kita pada gak bawa duit lebih, kita mutusin untuk lewat jalan darat. Yang menurut sumber terpercaya dari Galih kita cukup naik bukit dikit doang abis itu nanti ketemu kuburannya. Oke.

IMG_20140718_144323

Memulai pendakian

IMG20140718145701

Narsis itu perlu

Baru jalan dikit foto-foto dulu.

IMG_20140718_153745Pemandangan dari atas. Yang dibawah itu bangunan-bangunan desanya.

IMG20140718165041

selfie jangan lupa….

Dan akhirnya, sehabis jalan udah jauh diatas permukaan laut, kita pun nyasar. Ya, nyasar. Tanya-tanya jalan ke orang sekitar katanya emang gak bisa ke kuburannya kalau lewat darat, jadi memang harus naik boat. Rasa capek, kecewa, sama kaki pegel bercampur jadi satu. Ya udah deh gak ada yang bisa dilakuin lagi, kita akhirnya turun tanpa hasil, kecuali foto-foto.

IMG_20140718_165635Ditengah perjalanan nurunin bukit, kita papasan sama orang lokal. Cerita-cerita dikit, lah, ternyata bisa ke kuburannya kalo lewat rumah orang yang kita temuin itu. Kenapa gak daritadi pak ketemunya ๐Ÿ˜ฎ

Ya udah, mungkin kita emang enggak berjodoh sama tempat tujuan kita…

Perjalanan pulang terasa lebih berat sekaligus lebih lama daripada berangkatnya. Kabut turun, hujan turun, pantat pegel kelamaan di jok pula. Pokoknya hari itu trip yang paling menantang dari trip sebelumnya *iyalah*.

Setelah trip gue yang ini, tanggal 22 gue habis pergi lagi. Postingannya ditunggu seminggu lagi ya ๐Ÿ˜€ . Dan juga karena gue harus ngerjain tugas-tugas ospek, jadinya gue bakalan gak bisa update sama blogwalking jauh-jauh untuk 2 minggu sampai 1 bulan kedepan. Tapi kalau sempet sih gue bakal blogwalking, jadi lu semua gak usah kangen ๐Ÿ˜† .

Ciao~

Advertisements