Tags

, ,

Dulu waktu masih SMA, gue diberikan kebebasan dalam menentukan universitas dan apakah ingin merantau atau tetap di Denpasar. Gue putuskan buat menuju UB yang letaknya di Malang. Setelah alhamdulillah diterima, akhirnya tiba saat gue harus pergi ke Malang yang berarti gue harus merantau, jauh dari rumah, jauh dari orang tua dan adik-adik, yang sering bikin kangen berat pengen pulang tapi masih terlilit hutang tugas serta deadline yang mencekik.

Selama 2 semester ini menjalani perkuliahan dan 1 kali pulang ke Denpasar saat libur semester 1 kemarin, gue mendapati sesuatu yang janggal. Yaitu perbedaan kualitas saat di perantauan dan juga saat di rumah. Enggak, jangan bilang perbaikan gizi. Perbaikan gizi itu udah menjadi kewajiban saat pulang ke rumah. Bayangin aja selama di rantau gue cuma makan lalapan, pecel, tahu telor, kadang-kadang nasi padang atau mcd, dan lebih kadang-kadang lagi makan di tempat yang sedikit cozy sama pacar kalo uang saku masih ada sisa.

Selain perbaikan gizi, hal itu adalah TIDUR..

“Emang bedanya tidur di perantauan sama di rumah apaan?!”

Usai liburan gue balik lagi ke Malang, balik lagi ke kampus dan tugas-tugas. Di sela-sela nunggu kuliah selanjutnya gue ngobrol-ngobrol sebentar sama seorang temen dari Bandung, Atnuk namanya (disamarkan). Obrolan ini lah yang menjadi pintu menuju jawaban atas teka teki selama ini.

“Nuk nuk, gue heran, kenapa kalo di rumah gue bisa tahan begadang sampe jam 5an tapi begitu balik ke kosan paling mentok jam 11 gue udah tepar?”, ujar gue membuka obrolan.

“Gimana sih, ya jelas aja kan kesibukan elu di rumah sama di sini beda”, jawabnya. “Di sono mah elu paling makan tidur beol doang kan, mana capek”, Atnuk melanjutkan.

*Kemudian hening*

Iya, dari percakapan singkat diatas gue dapet salah satu faktor teka teki ini. Memang kalo di rumah kerjaan gue cuma makan-tidur-nonton tivi-internetan-skypean-jalan. Begitu terus sepanjang hari. Enggak heran tenaga gue masih terasa full saat malam sampe pagi. Sementara kegiatan gue di kampus berbeda 180 degree dari di rumah. Semua diawali dengan bangun-mandi-kadang sarapan-ngampus-kelar ngampus langsung nugas-asistensi-revisi-nugas lagi-malem pulang udah tepar. Enggak jarang juga gue nginep di kosan temen kemudian baru pulang pagi harinya untuk mandi sama ganti baju terus berangkat ngampus lagi.

Oke, dari analisa diatas, terjawab sudah salah satu faktor perbedaan tidur yang dari tadi gue bahas. Tapi setelah gue teliti lebih jauh, gue menemukan beberapa fakta lagi yang bisa gue analisa.

Perbedaan posisi meja belajar ternyata sangat-sangat menentukan produktivitas gue sebagai mahasiswa. Dirumah gue biasa beraktivitas menggunakan komputer di meja kerja ayah yang pastinya membuat badan lebih tegap dengan meja tinggi dan kursi berdesain bos. Mungkin karena ini gue bisa terjaga semalam suntuk. Kalo di kosan, meja belajar gue sudah beralih fungsi jadi tempat menaruh berbagai macam kertas-kertas print out materi, toples-toples camilan yang dikirim dari rumah, sampai benda-benda yang gue rasa gak begitu penting-penting amat tapi masih belum gue buang.

“Loh jadi meja belajarnya kayak gimana?!”

Santai, meja untuk gue belajar udah gue desain sedemikian rupa agar bisa menunjang pengerjaan tugas-tugas gue. Duduk dikasur, laptop di kursi samping kasur udah cukup menjadi meja belajar gue. Meja belajar dengan desain kayak gini punya masing hal positif dan negatif. Negatifnya gue jadi gampang ketiduran. Karena kepala nempel dikit dikasur, tiba-tiba udah pagi aja. Sedangkan hal positifnya, karena khilaf bangun pagi belum kerjain apa-apa sedangkan deadlinenya hari itu juga, mau enggak mau tugas dikerjain sengebut mungkin demi mengejar deadline. The wonderful power of kepepet, they said! Posisi ini berperan sangat besar dalam menjaga kualitas tidur gue agar tetap cukup. Walaupun dengan cara mengorbankan tugas-tugas berdeadline seketat pakaian dalam. Tapi apa mau dikata, emang itulah tugas dan tanggung jawab seonggok kasur yang mulia.

Dari 2 analisis super mendalam gue diatas, bisa gue tarik kesimpulan bahwa merantau itu harus, tapi perlu! Perlu agar kita bisa mandiri, apa-apa sendiri, sakit sendiri, apalagi ketika uang habis gara-gara hedon (langsung khilaf tentunya) dan belum dikirimi duit. Rasanya seperti ada sesuatu yang harus diperjuangkan dan lebih seru begitu menurut gue. Meskipun memutuskan untuk enggak merantau pun ga ada masalah, toh itu pilihan masing-masing. Gue sendiri cuma merantau 12 jam via darat dari rumah. Tergolong masih deket kan :D.

Siapa yang ga tau adegan dari film Merantau ini? (Sumber: Kakek Yahoo)

 

 

Berhubung lagi musim-musimnya camaba (calon mahasiswa baru), gue cuma bisa katakan selamat memasuki dunia yang seru! Beneran, kuliah ga cuma belajar tapi juga ngerjain tugas dan ajang pembuktian diri menjadi pribadi yang jauh lebih baik.

Mungkin cuma itu untuk postingan gue kali ini. See you soon!

Advertisements